Labels

Saturday, June 4, 2011

Bandung ‘memang’ Parijs van Java


Bandung adalah barometer kreativitas kesenian di Tanah Air. Tapi, yang dimaksud adalah kesenian modern yang diimpor dari Barat.

BANDUNG Parijs van Java, itulah julukan yang pernah dilekatkan orang-orang Eropa untuk kota yang sekarang menjadi Ibukota Jawa Barat itu. Adalah Jalan Baraga berikut gedung-gedungnya yang membuat julukan itu lahir. Jalan-jalan di kawasan Braga memang dirancang Belanda dengan sistem sarang laba-laba yang melingkar-lingkar seperti jalanan di Kota Paris. Lalu, arsitektur gedung-gedung yang berdiri di sana, memang diadopsi dari arsitektur zaman pencerahan yang menghiasi kota-kota di Eropa.
Para cucu Bataven (nenek moyang orang Belanda) kemudian mempercantik Bandung dengan membawa pelbagai bebungaan dari Negeri Kincir Angin. Bunga itu tentu ditanam pula di daerah Nusantara lainnya. Di Bandung, bunga yang bisa hidup dan tumbuh subur adalah falmboyan, bougenvile, dahlia, dan lain-lain. Kalau musim kemarau menyengat, daun-daun flamboyan akan berguguran seperti diabadikan dalam lagu Bunga Flamboyan yang dinyanyikan grup Bimbo. Yang tersisa di pohon itu tinggal kembangnya yang merah menyala. Bandung pun jadi merona. Melihat Bandung yang menyala oleh merah kembang, lahir julukan: Bandung Kota Kembang.
Kemudian, kota Paris dikenal sebagai pusat mode di dunia. Dan, kota Bandung pun disebut-sebut sebagai kota mode untuk tingkat nasional. Industri tenun, konveksi, dan garmen memang tumbuh subur di kawasan Bandung. Sepatu Cibaduyut, celana jins Cihampelas, T-shirt jalan Caladi 59, hingga pakaian bekas dari Eropa yang dulu dijual di kawasan Cibadak—yang ternyata banyak pembelinya dari kalangan artis, ikut melambungkan Bandung sebagai kota mode. Identifikasi Kota Bandung atas Kota Paris, menemukan argumentasinya dengan menggunakan katalisator di atas.
Tetapi ada yang kurang dari kota mode nasional itu. Betapa susah ternyata mencari pakaian casual yang identik dengan Bandung sebagai ibukota budaya Sunda. Julukan Parijs van Java atau kota mode nasional itu jadi terasa tinggal jargon yang ironis.
Salah satu pakaian adat orang Sunda yang tergolong casual adalah pangsi, pakaian hitam-hitam yang sekarang dijadikan kostum untuk pencak silat. Sedangkan pakaian adat resmi untuk resepsi dan kenduri tak jauh beda dengan milik orang Jawa, yaitu kebaya yang bermotif kembang, dan bawahannya dibalut dengan kain batik. Lalu bagian kepala laki-laki mengenakan blankon batik, sedang kepala wanita dihiasi konde. Di luar pangsi dan kebaya Bandung, rasanya susah mencari pakaian yang mencirikan identitas Bandung tanpa kehilangan nafas casual, yang bisa dipakai dengan nyaman dalam keseharian, elegan, dan tidak ketinggalan zaman.
Sungguh berbeda bila kita melancong ke Maliobro di Yogyakarta, atau ke Kuta di Bali. Di sana, betapa mudah mendapatkan pakaian casual dengan semangat tradisi setempat. Di Yogyakarta, bahkan meruyak pakaian dengan desain modernis yang digubah dari kain batik, yang bisa didapat dengan Rp10.000. Kain batik memang identik dengan budaya Jawa, sekalipun banyak daerah lain di Indonesia yang juga memproduksi batik. Bahkan Malaysia telah mempatenkan salah satu corak batik sebagai milik mereka.
“Orientasi pakaian casual Bandung memang bukan pada tradisi. Dan pakaian tradisi juga hanya dipakai pada acara-acara resmi, ya seperti resepsi,” tutur Tetet Cahyati, salah satu pelukis yang juga mengelola Sanggar Seni Tirtasari di kawasan Bandung Utara, dan belakangan menerjuni produksi batik kontemporer.
Menurut Tetet, orientasi kesenian di daerah Sunda, khususnya Bandung, memang cenderung ke arah Barat. Para musisi dari Bandung yang mencuat ke permukaan, bukanlah seniman-seniman tradisional Sunda, tetapi biduan-biduanita yang membawakan musik-musik modernis yang nadanya diimpor dari Eropa. Bandung diakui sebagai salah satu barometer seni musik Indonesia, tetapi hanya berlaku untuk musik modernis, dan tidak untuk seni musik tradisi.
Di seni rupa juga, nyaris tidak ditemukan ciri khas seni rupa yang kental dengan aroma Sunda. Berbeda dengan senirupa mazhab Yogyakarta dan Mazhab Bali. Seni rupa Yogyakarta kental dengan nuansa kerakyatan, sedangkan seni rupa Bali kuat dengan arwah taksu yang intens dan meditatif, terutama dapat dirasakan pada seni lukis corak tradisional.
Seni rupa yang berkembang di kota Bandung adalah senirupa modernis yang diimpor dari Eropa. Hal ini bisa dimaklumi, karena Institut Teknologi Bandung yang mempelajari seni rupa, desain, dan artsitek, didirikan oleh Ries Mulder, guru kesenian dari Belanda. Ries-lah yang mengajarkan aliran seni rupa abstrak dan kubisme geometris. Juga, seorang dosen matakuliah patung adalah Rita Widagdo yang berasal dari Jerman. Rita Widagdo ikut melengkapi ‘ke-barat-barat-an’ seni rupa kota Bandung. Ahmad Sadali sebagai salah satu tokoh seni rupa di ITB, juga belajar dari Amerika, dan mengadopsi beberapa elemen estetik dari Barat.
Dengan menjadikan kebudayaan Barat sebagai kiblat oleh para desainer, perupa, dan musisi yang berkarya di Kota Bandung, maka kesenian Bandung pun perlahan tanggal dari atribut Sunda-nya. Alhasil, kesenian Bandung yang benar-benar menghembuskan nafas Sunda seperti calung, ketuk tilu, bonang, tarawangsa, kini terdengar lamat-lamat, bahkan beberapa di antaranya tinggal lengkingan dari dalam kuburan kebudayaan.
Untunglah masih ada segelintir seniman dan budayawan yang mencoba mempertahankan, melestrasikan, menggali, dan memodifikasi kesenian tradisi Sunda. Sebut misalnya Mang Udjo, paguyuban dalang keluarga besar Sunarya, atau seniman-seniman yang berhimpun dalam sanggar, seperti Teater Sunda Kiwari, Sanggar Seni Tirtasari, Central Cultural Ledeng.

No comments:

Post a Comment